THIBBUN NABAWI (Pengobatan Ala Nabi) BUKAN ALTERNATIF

Juni 11, 2011

Penulis : Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari

 

Shahabat yang mulia Abu Sa‘id Al-Khudri Radliyallahu ‘anhu berkata: Sejumlah shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi dalam sebuah safar (perjalanan) yang mereka tempuh, hingga mereka singgah di sebuah kampung Arab. Mereka kemudian meminta penduduk kampung tersebut agar menjamu mereka, namun penduduk kampung itu menolak.

Tak lama setelah itu, kepala suku dari kampung tersebut tersengat binatang berbisa. Penduduknya pun mengupayakan segala cara pengobatan, namun tidak sedikit pun yang memberikan manfaat untuk kesembuhan pemimpin mereka. Sebagian mereka berkata kepada yang lain: “Seandainya kalian mendatangi rombongan yang tadi singgah di tempat kalian, mungkin saja ada di antara mereka punya obat (yang bisa menghilangkan sakit yang diderita pemimpin kita).” Penduduk kampung itu pun mendatangi rombongan shahabat Rasulullah yang tengah beristirahat tersebut, seraya berkata: “Wahai sekelompok orang, pemimpin kami disengat binatang berbisa. Kami telah mengupayakan berbagai cara untuk menyembuhkan sakitnya, namun tidak satu pun yang bermanfaat. Apakah salah seorang dari kalian ada yang memiliki obat?” Salah seorang shahabat berkata: “Iya, demi Allah, aku bisa meruqyah. Akan tetapi, demi Allah, tadi kami minta dijamu namun kalian enggan untuk menjamu kami. Maka aku tidak akan melakukan ruqyah untuk kalian hingga kalian bersedia memberikan imbalan kepada kami.”

Mereka pun bersepakat untuk memberikan sekawanan kambing sebagai upah dari ruqyah yang akan dilakukan. Shahabat itu pun pergi untuk meruqyah pemimpin kampung tersebut. Mulailah ia meniup disertai sedikit meludah dan membaca: “Alhamdulillah rabbil ‘alamin” (Surah Al-Fatihah). Sampai akhirnya pemimpin tersebut seakan-akan terlepas dari ikatan yang mengekangnya. Ia pun pergi berjalan, tidak ada lagi rasa sakit (yang membuatnya membolak-balikkan tubuhnya di tempat tidur).

Penduduk kampung itu lalu memberikan imbalan sebagaimana telah disepakati sebelumnya. Sebagian shahabat berkata: “Bagilah kambing itu.” Namun shahabat yang meruqyah berkata: “Jangan kita lakukan hal itu, sampai kita menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu kita ceritakan kejadiannya, dan kita tunggu apa yang beliau perintahkan.” Mereka pun menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mengisahkan apa yang telah terjadi. Beliau bertanya kepada shahabat yang melakukan ruqyah: “Dari mana engkau tahu bahwa Al-Fatihah itu bisa dibaca untuk meruqyah? Kalian benar, bagilah kambing itu dan berikanlah bagian untukku bersama kalian.”

Hadits di atas diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu dalam kitab Shahih-nya no. 5749, kitab Ath-Thibb, bab An-Nafats fir Ruqyah. Diriwayatkan pula oleh Al-Imam Muslim rahimahullahu dalam Shahih-nya no. 5697 kitab As-Salam, bab Jawazu Akhdzil Ujrah ‘alar Ruqyah.

Beberapa faedah yang dapat kita ambil dari hadits Abu Sa‘id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu di atas adalah:

            1. Surah Al-Fatihah mustahab (disunahkan) untuk dibacakan kepada orang yang disengat binatang berbisa dan orang sakit.

            2. Boleh mengambil upah dari ruqyah dan upah itu halal.

            3. Seluruh kambing itu sebenarnya milik orang yang meruqyah adapun yang lainnya tidak memiliki hak, namun dibagikannya kepada teman-temannya karena kedermawanan dan kebaikan.

            4. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam minta bagian dalam rangka lebih menenangkan hati para shahabatnya dan untuk lebih menunjukkan bahwa upah yang didapatkan tersebut halal, tidak mengandung syubhat.

            Demikian faedah yang disebutkan Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu dalam Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim (14/410).

Pengobatan Nabawiyyah (At-Thibbun Nabawi) Bukan Pengobatan Alternatif

            Keberadaan berbagai penyakit termasuk sunnah kauniyyah yang diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Penyakit-penyakit itu merupakan musibah dan ujian yang ditetapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala atas hamba-hamba-Nya. Dan sesungguhnya pada musibah itu terdapat kemanfaatan bagi kaum mukminin. Shuhaib Ar-Rumi radhiallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): “Sungguh mengagumkan perkara seorang mukmin. Sungguh seluruh perkaranya adalah kebaikan. Yang demikian itu tidaklah dimiliki oleh seorangpun kecuali seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kelapangan, ia bersyukur. Maka yang demikian itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar. Maka yang demikian itu baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999)

Termasuk keutamaan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diberikan kepada kaum mukminin, Dia menjadikan sakit yang menimpa seorang mukmin sebagai penghapus dosa dan kesalahan mereka. Sebagaimana tersebut dalam hadits Abdullah bin Mas‘ud radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): “Tidaklah seorang muslim ditimpa gangguan berupa sakit atau lainnya, melainkan Allah menggugurkan kesalahan-kesalahannya sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya.” (HR. Al-Bukhari no. 5661 dan Muslim no. 6511)

Di sisi lain, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan penyakit, Dia pun menurunkan obat bersama penyakit itu. Obat itupun menjadi rahmat dan keutamaan dari-Nya untuk hamba-hamba-Nya, baik yang mukmin maupun yang kafir. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu (yang artinya): “Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Dia turunkan untuk penyakit itu obatnya.” (HR. Al-Bukhari no. 5678)

Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu mengabarkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya): “Sesungguhnya Allah tidaklah menurunkan penyakit kecuali Dia turunkan pula obatnya bersamanya. (Hanya saja) tidak mengetahui orang yang tidak mengetahuinya dan mengetahui orang yang mengetahuinya.” (HR. Ahmad 1/377, 413 dan 453. Dan hadits ini dishahihkan dalam Ash-Shahihah no. 451)

Jabir radhiallahu ‘anhu membawakan hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya): “Setiap penyakit ada obatnya. Maka bila obat itu mengenai penyakit akan sembuh dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Muslim no. 5705)

Al-Qur`anul Karim dan As-Sunnah yang shahih sarat dengan beragam penyembuhan dan obat yang bermanfaat dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga mestinya kita tidak terlebih dahulu berpaling dan meninggalkannya untuk beralih kepada pengobatan kimiawi yang ada di masa sekarang ini. (Shahih Ath-Thibbun Nabawi, hal. 5-6, Abu Anas Majid Al-Bankani Al-‘Iraqi)

Karena itulah Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullahu berkata: “Sungguh para tabib telah sepakat bahwa ketika memungkinkan pengobatan dengan bahan makanan maka jangan beralih kepada obat-obatan (kimiawi, –pent.). Ketika memungkinkan mengkonsumsi obat yang sederhana, maka jangan beralih memakai obat yang kompleks. Mereka mengatakan: ‘Setiap penyakit yang bisa ditolak dengan makanan-makanan tertentu dan pencegahan, janganlah mencoba menolaknya dengan obat-obatan’.”

Ibnul Qayyim juga berkata: “Berpalingnya manusia dari cara pengobatan nubuwwah seperti halnya berpalingnya mereka dari pengobatan dengan Al-Qur`an, yang merupakan obat bermanfaat.” (Ath-Thibbun Nabawi, hal. 6, 29)

Ibnul Qayyim juga berkata: “Berpalingnya manusia dari cara pengobatan nubuwwah seperti halnya berpalingnya mereka dari pengobatan dengan Al-Qur`an, yang merupakan obat bermanfaat.” (Ath-Thibbun Nabawi, hal. 6, 29)           

Dengan demikian, tidak sepantasnya seorang muslim menjadikan pengobatan nabawiyyah sekedar sebagai pengobatan alternatif. Justru sepantasnya dia menjadikannya sebagai cara pengobatan yang utama, karena kepastiannya datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala lewat lisan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sementara pengobatan dengan obat-obatan kimiawi kepastiannya tidak seperti kepastian yang didapatkan dengan thibbun nabawi. Pengobatan yang diajarkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diyakini kesembuhannya karena bersumber dari wahyu. Sementara pengobatan dari selain Nabi kebanyakannya dugaan atau dengan pengalaman/ uji coba. (Fathul Bari, 10/210)

Namun tentunya, berkaitan dengan kesembuhan suatu penyakit, seorang hamba tidak boleh bersandar semata dengan pengobatan tertentu. Dan tidak boleh meyakini bahwa obatlah yang menyembuhkan sakitnya. Namun seharusnya ia bersandar dan bergantung kepada Dzat yang memberikan penyakit dan menurunkan obatnya sekaligus, yakni Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seorang hamba hendaknya selalu bersandar kepada-Nya dalam segala keadaannya. Hendaknya ia selalu berdoa, memohon kepada-Nya agar menghilangkan segala kemudharatan yang tengah menimpanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ

“Siapakah yang mengijabahi (menjawab/ mengabulkan) permintaan orang yang dalam kesempitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan (siapakah) Dia yang menghilangkan kejelekan?” (An-Naml: 62)

Sungguh tidak ada yang dapat memberikan kesembuhan kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Karena itulah, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berkata memuji Rabbnya:

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

“Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku.” (Asy-Syu’ara`: 80)

Contoh Pengobatan Nabawi

Banyak sekali cara pengobatan nabawi. Kami hanya menyebutkan beberapa di antaranya, karena keterbatasan halaman yang ada:

            1.Pengobatan dengan madu

Allah Ta’ala berfirman tentang madu yang keluar dari perut lebah:

يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ

“Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.”(QS. An Nahl: 69)

Madu dapat digunakan untuk mengobati berbagai jenis penyakit dengan izin Allah. Di antaranya untuk mengobati sakit perut, seperti ditunjukkan dalam hadits berikut ini (yang artinya): “Ada seseorang menghadap Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata: Saudaraku mengeluhkan sakit pada perutnya. Nabi berkata: Minumkan ia madu. Kemudian orang itu datang untuk kedua kalinya, Nabi berkata: Minumkan ia madu. Orang itu datang lagi pada kali yang ketiga, Nabi tetap berkata: Minumkan ia madu.”

Setelah itu, orang itu datang lagi dan menyatakan: Aku telah melakukannya (namun belum sembuh juga malah bertambah mencret). Nabi bersabda: Allah Mahabenar dan perut saudaramu itu dusta. Minumkan lagi madu. Orang itu meminumkannya lagi, maka saudaranya pun sembuh.” (HR. Al Bukhari no. 5684 dan Muslim no. 5731)

            2.Pengobatan dengan habbah sauda’ (jintan hitam, red)

Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam:

إِنَّ هذِهِ الْحَبَّة السَّوْدَاءَ شِفَاءٌ مَنْ كَلِّ دَاءٍ إِلَّا مِنَ السَّامِ قلْتُ وَمَا السَّامُ قَالَ الْمَوْتُ

“Sesungguhnya habbah sauda’ ini merupakan obat dari semua penyakit kecuali dari penyakit as-samu.” Aku (yakni ‘Aisyah) bertanya: “Apakah as-samu itu?” Beliau menjawab: “Kematian.”(HR. Al Bukhori no. 5687 dan Muslim no. 5727)

            3.Pengobatan dengan susu dan kencing unta

Anas Radliyallahu ‘anhu menceritakan: “Ada sekelompok orang ‘Urainah dari penduduk Hijaz menderita sakit (karena kelaparan atau keletihan). Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, berilah tempat kepada kami dan berilah kami makan. Ketika telah sehat, mereka berkata: Sesungguhnya udara kota Madinah tidak cocok bagi kami (hingga kami menderita sakit, -pent.) Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam pun menempatkan mereka di Harrah, di dekat tempat pemelilharaan unta-unta beliau (yang berjumlah 3-30 ekor). Beliau berkata: Minumlah dari susu dan kencing unta-unta itu.

            Tatkala mereka telah sehat, mereka justru membunuh penggembala unta-unta Nabi (setelah sebelumnya mereka mencungkil matanya) dan manggiring unta-unta tersebut (dalam keadaan mereka juga murtad dari Islam, -pent.). Nabi Sholullah ‘alaihi wasallam pun mengirim utusan untuk mengejar mereka, hingga mereka tertangkap dan diberi hukuman dengan dipotong tangan dan kaki-kaki mereka serta dicungkil mata mereka.” (HR. Al Bukhari no. 5685, 5686 dan Muslim no. 4329)

            4.Pengobatan dengan berbekam (hijamah).

Ibnu ‘Abbas Ridliyallahu ‘anhu mengabarkan:

أَنَّ رَسُوْلَ الله صلى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ احتَجَمَ وَهَوَ مُحْرِمٌ فِى رَأْسِهِ مِنْ شقِيْقَةٍ كَانت به

“Sesungguhnya Rasulullah Shollallah ‘alaihi wasallam berbekam pada bagian kepalanya dalam keadaan beliau sebagai muhrim (orang yang berihram) karena sakit pada sebagian kepalanya.” (HR. Al Bukhari no. 5701)

Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الشِّفَاءُ فِي ثَلاثٍ شُرْبَةِ عَسَلٍ وَشَرْطَةِ مِحْجَمٍ وَكَيّة نَارٍ وَأَنْهَى أُمَّتِي عَنِ الْكَيِّ

“Obat atau kesembuhan itu (antara lain) dalam tiga (cara pengobatan): minum madu, berbekam dan dengan kay, namun aku melarang umatku dari kay.” (HR. Al Bukhari no. 5680)

Ruqyah,

Salah satu pengobatan nabawi

Diantara cara pengobatan nabawi yang bermanfaat dengan izin Allah adalah ruqyah yang syar’i, yang ditetapkan dalam Al Qur’an dan As Sunnah yang shohih. Ketahuilah, Allah menjadikan Al Qur’an Karim sebagai syifa’ (obat atau penyembuh) sebagaimana firmanNya:

وَلَوْ جَعَلْنَاهُ قُرْءَانًا أَعْجَمِيًّا لَقَالُوا لَوْلَا فُصِّلَتْ ءَايَاتُهُ ءَأَعْجَمِيٌّ وَعَرَبِيٌّ قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ

 “Dan jikalau Kami jadikan Al Qur’an itu suatu bacaan dalam selain bahasa Arab tentulah mereka mengatakan: “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya? Apakah (patut Al Qur’an) dalam bahasa asing, sedangkan (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: Al Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar (penyembuh) bagi orang yang beriman.”(QS. Fushshilat: 44)

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

“Dan Kami turunkan dari Al Qur’an apa yang merupakan syifa’ dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”(QS. Al Isra’: 82)

Huruf min dalam ayat di atas untuk menerangkan jenis, bukan menunjukkan tab’idh (makna sebagian). Karena Al Qur’an seluruhnya adalah syifa’ (penyembuh) dan rahmat bagi orang-orang beriman, sebagaimana dinyatakan dalam ayat sebelumnya (yaitu surat Al Fushshilat: 44).” (Ad Da’u wad Dawa’ hal. 7)

Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqolani berkata ketika memberikan komentar terhadap hadits yang menyebutkan tentang wanita yang menderita ayan (epilepsi): “Dalam hadits ini ada dalil bahwa pengobatan seluruh penyakit dengan berdoa dan bersandar kepada Allah adalah lebih manjur serta lebih bermanfaat daripada dengan obat-obatan. Pengaruh dan khasiatnya bagi tubuh pun lebih besar daripada pengaruh obat-obatan jasmani.

Namun kemanjurannya hanyalah didapatkan dengan dua perkara:

Pertama: Dari sisi orang yang menderita sakit, yaitu lurus niat atau tujuannya.

Kedua: Dari sisi orang yang mengobati, yaitu kekuatan bimbingan atau arahan dan kekuatan hatinya dengan takwa dan tawakkal. Wallahu a’lam. (Fathul Bari 10/115)

Dalam hadits Abu Sa’id Al Khudri tentang ruqyah dengan surat Al Fatihah yang dilakukan salah seorang sahabat, benar-benar terlihat pengaruh obat tersebut pada penyakit yang diderita sang pemimpin kampung. Sehingga obat itu mampu menghilangkan penyakit, seakan-akan penyakit tersebut tidak pernah ada sebelumnya. Cara seperti ini merupakan pengobatan yang paling mudah dan ringan. Seandainya seorang hamba melakukan pengobatan ruqyah dengan membaca Al Fatihah secara bagus, niscaya ia akan melihat pengaruh yang mengagumkan dalam kesembuhan.

Al Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: “Aku pernah tinggal di Makkah selama beberapa waktu dalam keadaan tertimpa berbagai penyakit. Dan aku tidak menemukan tabib maupun obat. Aku pun mengobati diriku sendiri dengan Al Fatihah yang di baca berulang-ulang pada segelas air Zam-zam kemudian meminumnya, hingga aku melihat dalam pengobatan itu ada pengaruh yang mengagumkan. Lalu aku menceritakan hal itu kepada orang yang mengeluh sakit. Mereka pun melakukan pengobatan dengan Al Fatihah, ternyata kebayakan mereka sembuh dengan cepat.”

Subhanallah! Demikian penjelasan dan persaksian Al Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah terhadap ruqyah serta pengalaman pribadinya berobat dengan membaca Al Fatihah. (Ad Da’u wad Dawa’ hal. 8, Ath Thibbun Nabawi hal. 139)

Asy Syaikh Shalih bin Fauzan berkata: “Sungguh Allah telah menjadikan Al Qur’an sebagai syifa’ (obat) bagi penyakit-penyakit hissi (yang dapat dirasakan indera) dan maknawi berupa penyakit-penyakit hati dan badan. Namun dengan syarat, peruqyah dan yang diruqyah harus mengikhlaskan niat. Dan masing-masing meyakini bahwa kesembuhan itu datang dari sisi Allah. Dan ruqyah dengan Kalamullah merupakan salah satu di antara sebab-sebab yang bermanfaat.”

Beliau juga berkata:”Pengobatan dengan ruqyah Al Qur’an merupakan Sunnah Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam dan amalan salaf. Mereka dahulu mengobati orang yang terkena ‘ain, kesurupan jin, sihir dan seluruh penyakit dengan ruqyah. Mereka meyakini bahwa ruqyah termasuk sarana yang mubah lagi bermanfaat, sementara yang menyembuhkan hanyalah Allah saja.” [Al Muntaqa min Fatawa Asy Syaikh Shalih Al Fauzan, juz 1, jawaban soal no. 77] ]

Thibbun Nabawi Memberi Pengaruh bagi Kesembuhan dengan Izin Allah Subhanahu wa Ta’ala

Mungkin ada di antara kita yang pernah mencoba melakukan pengobatan dengan thibbun nabawi dengan minum madu misalnya atau habbah sauda`. Atau dengan ruqyah membaca ayat-ayat Al-Qur`an dan doa-doa yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun tidak merasakan pengaruh apa-apa. Penyakitnya tak kunjung hilang. Ujung-ujungnya, kita meninggalkan thibbun nabawi karena kurang percaya akan khasiatnya, lalu beralih ke obat-obatan kimiawi. Mengapa demikian? Mengapa kita tidak mendapatkan khasiat sebagaimana yang didapatkan Al-Imam Ibnu Qayyim rahimahullahu ketika meruqyah dirinya dengan Al-Fatihah? Atau seperti yang dilakukan oleh seorang shahabat ketika meruqyah kepala suku yang tersengat binatang berbisa di mana usai pengobatan si kepala suku (pemimpin kampung) sembuh seakan-akan tidak pernah merasakan sakit?

Di antara jawabannya, sebagaimana ucapan Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu yang telah lewat, bahwasanya manjurnya ruqyah (pengobatan dengan membaca doa-doa dan ayat-ayat Al-Qur`an) hanyalah diperoleh bila terpenuhi dua hal:

Pertama: Dari sisi si penderita, harus lurus dan benar niat/ tujuannya.

Kedua: Dari sisi yang mengobati, harus memiliki kekuatan dalam memberi bimbingan/arahan dan kekuatan hati dengan takwa dan tawakkal.

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata: “Ada hal yang semestinya dipahami, yakni zikir, ayat, dan doa-doa yang dibacakan sebagai obat dan yang dibaca ketika meruqyah, memang merupakan obat yang bermanfaat. Namun dibutuhkan respon pada tempat, kuatnya semangat dan pengaruh orang yang meruqyah. Bila obat itu tidak memberi pengaruh, hal itu dikarenakan lemahnya pengaruh peruqyah, tidak adanya respon pada tempat terhadap orang yang diruqyah, atau adanya penghalang yang kuat yang mencegah khasiat obat tersebut, sebagaimana hal itu terdapat pada obat dan penyakit hissi.

Tidak adanya pengaruh obat itu bisa jadi karena tidak adanya penerimaan thabi’ah terhadap obat tersebut. Terkadang pula karena adanya penghalang yang kuat yang mencegah bekerjanya obat tersebut. Karena bila thabi’ah mengambil obat dengan penerimaan yang sempurna, niscaya manfaat yang diperoleh tubuh dari obat itu sesuai dengan penerimaan tersebut.

Demikian pula hati. Bila hati mengambil ruqyah dan doa-doa perlindungan dengan penerimaan yang sempurna, bersamaan dengan orang yang meruqyah memiliki semangat yang berpengaruh, niscaya ruqyah tersebut lebih berpengaruh dalam menghilangkan penyakit.” (Ad-Da`u wad Dawa`, hal. 8)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu menyatakan, terkadang sebagian orang yang menggunakan thibbun nabawi tidak mendapatkan kesembuhan. Yang demikian itu karena adanya penghalang pada diri orang yang menggunakan pengobatan tersebut. Penghalang itu berupa lemahnya keyakinan akan kesembuhan yang diperoleh dengan obat tersebut, dan lemahnya penerimaan terhadap obat tersebut.

Contoh yang paling tampak/ jelas dalam hal ini adalah Al-Qur`an, yang merupakan obat penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada. Meskipun demikian, ternyata sebagian manusia tidak mendapatkan kesembuhan atas penyakit yang ada dalam dadanya. (Hal ini tentunya terjadi, -pent.) karena kurangnya keyakinan dan penerimaannya. Bahkan bagi orang munafik, tidak menambah kecuali kotoran di atas kotoran yang telah ada pada dirinya, dan menambah sakit di atas sakit yang ada.

Dengan demikian thibbun nabawi tidak cocok/ pantas kecuali bagi tubuh-tubuh yang baik, sebagaimana kesembuhan dengan Al-Qur`an tidak cocok kecuali bagi hati-hati yang baik. (Fathul Bari, 10/210)

Tentunya perlu diketahui bahwa kesembuhan itu merupakan perkara yang ditakdirkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia Yang Maha Kuasa sebagai Dzat yang memberikan kesembuhan terkadang menunda pemberian kesembuhan tersebut, walaupun si hamba telah menempuh sebab-sebab kesembuhan. Dia menundanya hingga waktu yang ditetapkan hilangnya penyakit tersebut dengan hikmah-Nya.

Yang jelas kesembuhan dapat diperoleh dengan obat-obatan jika dikonsumsi secara tepat, sebagaimana rasa lapar dapat hilang dengan makan dan rasa haus dapat hilang dengan minum. Jadi secara umum obat itu akan bermanfaat. Namun terkadang kemanfaatan itu luput diperoleh karena adanya penghalang. (Fathul Bari, 10/210)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Dinukil dari Asy Syariah No.24/II/1427 H/2006

 

Iklan

Kisah Ashabul Kahfi

Juni 11, 2011

Penulis: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar Thalib

 

Kisah ini begitu kesohor. Dengan kekuasaan-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menidurkan sekelompok pemuda yang berlindung di sebuah gua selama 309 tahun. Apa hikmah di balik ini semua?

Ashhabul Kahfi adalah para pemuda yang diberi taufik dan ilham oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga mereka beriman dan mengenal Rabb (Tuhan) mereka. Mereka mengingkari keyakinan yang dianut oleh masyarakat mereka yang menyembah berhala. Mereka hidup di tengah-tengah bangsanya sembari tetap menampakkan keimanan mereka ketika berkumpul sesama mereka, sekaligus karena khawatir akan gangguan masyarakatnya. Mereka mengatakan:

رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُوْنِهِ إِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا

“Rabb kami adalah Rabb langit dan bumi, kami sekali-kali tidak akan menyeru Rabb selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang jauh.” (Al-Kahfi: 14)

Yakni, apabila kami berdoa kepada selain Dia, berarti kami telah mengucapkan suatu

شَطَطًا

(perkataan yang jauh), yaitu perkataan palsu, dusta, dan dzalim.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan perkataan mereka selanjutnya:

هَؤُلاَءِ قَوْمُنَا اتَّخَذُوا مِنْ دُوْنِهِ آلِهَةً لَوْلاَ يَأْتُوْنَ عَلَيْهِمْ بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللهِ كَذِبًا

“Kaum kami ini telah mengambil sesembahan-sesembahan selain Dia. Mereka tidak mengajukan alasan yang terang (tentang keyakinan mereka?) Siapakah yang lebih dzalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?” (Al-Kahfi: 15)

Ketika mereka sepakat terhadap persoalan ini, mereka sadar, tidak mungkin menampakkannya kepada kaumnya. Mereka berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar memudahkan urusan mereka:

رَبَّنَاآتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

“Wahai Rabb kami, berilah kami rahmat dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami.” (Al-Kahfi: 10)

Mereka pun menyelamatkan diri ke sebuah gua yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala mudahkan bagi mereka. Gua itu cukup luas dengan pintu menghadap ke utara sehingga sinar matahari tidak langsung masuk ke dalamnya. Kemudian mereka tertidur dengan perlindungan dan pegawasan dari Allah selama 309 tahun. Allah Subhanahu wa Ta’ala buatkan atas mereka pagar berupa rasa takut (dihati para manusia) meskipun para pemuda itu sangat dekat dengan kota tempat mereka tinggal. Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri yang menjaga mereka selama di dalam gua. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِيْنِ وَذَاتَ الشِّمَالِ

“Dan Kami bolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri.” (Al-Kahfi: 18)

Demikianlah agar jasad mereka tidak dirusak oleh tanah. Setelah tertidur sekian ratus tahun lamanya, Allah Subhanahu wa Ta’ala membangunkan mereka

لِيَتَسَاءَلُوا

(agar mereka saling bertanya), dan supaya mereka pada akhirnya mengetahui hakekat yang sebenarnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْ قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ قَالُوا رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَذِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ

 

“Berkatalah salah seorang dari mereka: ‘Sudah berapa lama kalian menetap (di sini)?’ Mereka menjawab: ‘Kita tinggal di sini sehari atau setengah hari.’ Yang lain berkata pula: ‘Rabb kalian lebih mengetahui berapa lamanya kalian berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kalian pergi ke kota membawa uang perakmu ini’.” (Al-Kahfi: 19)

Di dalam kisah ini terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah yang nyata. Di antaranya:

            1. Walaupun menakjubkan, kisah para penghuni gua ini bukanlah ayat (tanda kebesaran) Allah yang paling ajaib. Karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mempunyai ayat-ayat yang menakjubkan yang di dalamnya terdapat pelajaran berharga bagi mereka yang mau memerhatikannya.

            2. Sesungguhnya siapa saja yang berlindung kepada Allah, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala melindunginya dan lembut kepadanya, serta menjadikannya sebagai sebab bagi orang-orang yang sesat untuk mendapat hidayah (petunjuk). Di sini, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah bersikap lembut terhadap mereka dalam tidur yang panjang ini, untuk menyelamatkan iman dan tubuh mereka dari fitnah dan pembunuhan masyarakat mereka. Allah menjadikan tidur ini sebagai bagian dari ayat-ayat (tanda kekuasaan)-Nya yang menunjukkan kesempurnaan kekuasaan Allah dan berlimpahnya kebaikan-Nya. Juga agar hamba-hamba-Nya mengetahui bahwa janji Allah itu adalah suatu kebenaran.

            3. Anjuran untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat sekaligus mencarinya. Karena sesungguhnya Allah membangunkan mereka dari tidurnya adalah untuk hal itu. Dengan penelitian yang mereka lakukan dan pengetahuan tentang keadaan manusia, akan menghasilkan bukti dan ilmu atau keyakinan bahwa janji Allah adalah benar, dan bahwa hari kiamat yang pasti terjadi bukanlah suatu hal yang perlu disangsikan.

            4. Adab kesopanan bagi mereka yang mengalami kesamaran atau ketidakjelasan akan suatu masalah ilmu adalah dengan mengembalikannya kepada yang mengetahuinya. Dan hendaknya dia berhenti dalam perkara yang dia ketahui.

            5. Sahnya menunjuk wakil dalam jual beli, dan sah pula kerjasama dalam masalah ini. Karena adanya dalil dari ucapan mereka dalam ayat:

فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَذِهِ إِلَى الْمَدِيْنَة

“Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota membawa uang perakmu ini.” (Al-Kahfi: 19)

            6. Boleh memakan makanan yang baik (lezat) dan memilih makanan yang disenangi atau sesuai selera, selama tidak berbuat israf (boros atau berlebihan) yang terlarang, berdasarkan dalil:

فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَى طَعَامًا فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِنْهُ

“Hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu.” (Al-Kahfi: 19)

            7. Melalui kisah ini kita dianjurkan untuk berhati-hati dan mengasingkan diri atau menjauhi tempat-tempat yang dapat menimbulkan fitnah dalam agama. Dan hendaknya seseorang menyimpan rahasia sehingga dapat menjauhkannya dari suatu kejahatan.

            8. Diterangkan dalam kisah ini betapa besar kecintaan para pemuda yang beriman itu terhadap ajaran agama mereka. Dan bagaimana mereka sampai melarikan diri, meninggalkan negeri mereka demi menyelamatkan diri dari segenap fitnah yang akan menimpa agama mereka, untuk kembali pada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

            9. Disebutkan dalam kisah ini tentang apa yang terselinap dalam kejahatan dari kemudaratan dan kerusakan suatu hal yang menumbuhkan pada diri ini  kebencian terhadap kejahatan dan upaya meninggalkannya. Dan sesungguhnya jalan ini adalah jalan yang ditempuh kaum mukminin.

            10.  Bahwa firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قَالَ الَّذِيْنَ غَلَبُوا عَلَى أَمْرِهِمْ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِمْ مَسْجِدًا

“Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: ‘Sungguh kami tentu akan mendirikan sebuah rumah ibadah di atas mereka’.” (Al-Kahfi: 21)

            Di dalam ayat ini terdapat dalil bahwa masyarakat di mana mereka hidup (setelah bangun dari tidur panjang) adalah orang-orang yang mengerti agama. Hal ini diketahui karena mereka sangat menghormati para pemuda itu sehingga sangat berkeinginan membangun rumah ibadah di atas gua mereka. Dan walaupun ini dilarang –terutama dalam syariat agama kita– tetapi tujuan diceritakannya hal ini adalah sebagai keterangan bahwa rasa takut yang begitu besar yang dirasakan oleh para pemuda tersebut akan fitnah yang mengancam keimanannya, serta masuknya mereka ke dalam gua telah Allah Subhanahu wa Ta’ala gantikan sesudah itu dengan keamanan dan penghormatan yang luar biasa dari manusia. Dan ini adalah ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap orang yang menempuh suatu kesulitan karena Allah, di mana Dia jadikan baginya akhir perjalanan yang sangat terpuji.

            11. Pembahasan yang berbelit-belit dan tidak bermanfaat adalah suatu hal yang tidak pantas untuk ditekuni, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَلاَ تُمَارِ فِيْهِمْ إلاَّ مِرَاءً ظَاهِرًا

“Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang keadaan mereka, kecuali pertengkaran lahir saja.” (Al-Kahfi: 22)

12. Faedah lain dari kisah ini bahwasanya bertanya kepada yang tidak berilmu tentang suatu persoalan atau kepada orang yang tidak dapat dipercaya, adalah perbuatan yang dilarang. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan:

وَلاَ تَسْتَفْتِ فِيْهِمْ مِنْهُمْ أَحَدًا

“Dan jangan pula bertanya mengenai mereka (para pemuda itu) kepada salah seorang di antara mereka itu.” (Al-Kahfi: 22) Wallahu a’lam.

(Diambil dari Taisirul Lathifil Mannan karya Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullahu)

Sumber: http://www.asysyariah.com          

 

 


MEWASPADAI GODAAN DUNIA

Juni 11, 2011

Kehidupan dunia memang mempesona, beragam kenikmatan ada di dalamnya. Maka tidak sedikit pula orang-orang yang berlomba untuk mendapatkannya. Bahkan ada sebagian mereka yang rela mengorbankan agamanya demi untuk mendapatkan dunia. Mereka tidak sadar bahwa dunia ini adalah tempat sementara, sedangkan tempat kembali mereka yang sesungguhnya adalah akhirat.
Sungguh sudah terlalu banyak orang yang terkena fitnah (godaan) dunia, baik dia merasa atau tidak merasa, dan pada akhirnya nanti dunia itu akan membinasakan mereka. Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam jauh-jauh hari telah memperingatkan umatnya dari fitnah dunia sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah beliau berkata: bersabda Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam:

بادروا بالأعمال فتنا كقطع الليل المظلم يصبح الرجل مؤمنا ويمسى كافرا ويمسى مؤمنا ويصبح كافرا يبيع دينه بعرض من الدنيا

“Bersegeralah kalian untuk beramal, sebelum datang fitnah yang seperti potongan gelapnya malam, sehingga (karena dahsyatnya fitnah ini) di pagi hari seorang itu (masih) mukmin dan disore harinya sudah kafir, dan juga di sore hari seorang (masih) mukmin dan di pagi harinya sudah dalam keadaan kafir, (hal ini dikarenakan) dia menjual agamanya dengan sedikit dari harta dunia.”
Perhatikanlah wahai kaum muslimin, dunia yang kita hidup di dalamnya, terkandung padanya fitnah yang begitu besar, sehingga Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam sampai menyebutkan ada seorang yang pagi hari masih mukmin sore harinya dia sudah keluar dari agamanya, dan begitu pula sebaliknya, seorang yang sore harinya masih mukmin di pagi hari dia sudah menjadi kafir, meninggalkan agamanya.
Maka di dalam hadits ini terkandung faidah yaitu bahwa kita hendaknya menjauhi fitnah dunia, dengan kita banyak melakukan amalan-amalan ibadah yang dituntunkan oleh Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam. Seorang yang banyak melakukan ibadah dia akan terlalaikan dari gemarlapnya dunia sehingga dia hanya mengambil dari dunia ini seperlunya saja, namun sebaliknya seorang yang tersibukkan dengan dunia dia akan terlalaikan dari ibadah sehingga seolah dunia itulah tujuan dari kehidupannya. Wal ‘iyadzubillah.
Rasulullah Shollallah ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al Imam Ibnu Majah dari Zaid bin Tsabit beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang menjadikan dunia itu sebagai prioritasnya (tujuan utama) maka Allah akan memecah belah urusannya, dan manjadikan kemiskinan ada di depan matanya, sementara dunia itu tidak akan datang kepadanya melainkan apa yang telah dituliskan (ditakdirkan) untuknya. Dan barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai prioritasnya maka Allah akan mengumpulkan urusan-urusannya, dan menjadikan kekayaan di dalam hatinya dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan mendesak untuk mendatanginya”.
Berkata Asy Syaikh Muhammad Al ‘Utsaimin: Dan fitnah-fitnah dunia itu ada yang berasal dari syubuhat (pemikiran menyimpang) dan ada yang berasal dari syahawat, adapun fitnah yang berasal dari syubuhat adalah seluruh fitnah yang dibangun diatas kebodohan, maka itulah fitnah syubuhat. Dan termasuk hal itu pula adalah apa yang di dapat dari ahlul bid’ah (pelaku kebid’ahan) yang mereka membuat-buat di dalam masalah aqidah mereka yang bukan dari syariat Allah. Atau ahlul bid’ah yang mereka membuat-buat perkataan-perkataan dan juga perbuatan-perbuatan yang bukan dari syariat Allah. Dan sungguh seorang itu tekadang terfitnah – kita berlindung kepada Allah dari hal itu – sehingga akhirnya diapun tersesat dari kebenaran dengan sebab syubuhat.
Dan termasuk fitnah syubuhat pula adalah apa yang didapat dalam mu’amalah dengan perkara-perkara yang musytabihat (samar-samar), yang mana hal itu (sebenarnya) jelas di hati orang-orang yang yakin, namun terasa samar bagi orang yang hatinya tersesat – kita berlindung kepada Allah dari hal itu – , engkau dapati dia (orang yang hatinya sesat) dia bermu’amalah dengan mu’amalah yang jelas bahwa hal itu haram namun di karenakan di dalam hatinya ada kotoran dosa-dosa – kita meminta kepada Allah keselamatan darinya – maka tersamarkanlah perkara tersebut sehingga terhiasilah amalan jeleknya tadi, dan diapun menyangka bahwa itu adalah kebaikan. Dan sungguh Allah telah berfirman tentang mereka.

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

“Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.”(QS. Al Kahfi: 103-104)
Maka merekalah orang-orang yang merugi – kita berlindung diri kepada Allah dari hal itu – Jadi fitnah itu terkadang dari syubuhat dan terkadang pula dari syahawat, dalam artian dikarenakan jiwanya mengajaknya untuk melakukan hal tersebut, maka diapun tidak lagi peduli (tentang keharomannya), sehingga diapun akhirnya melakukannya. Dia tahu bahwa ini wajib, namun jiwanya menyerunya untuk bermalas-malasan, maka diapun meninggalkan kewajiban tersebut. Ini adalah fitnah syahawat yakni fitnah karena adanya suatu kehendak jiwa.
Dan termasuk dalam hal ini pula – bahkan ini termasuk yang paling besarnya – adalah fitnah syahawat berupa zina dan homoseks – . Ini adalah termasuk hal yang paling memadhorotkan (membahayakan) bagi umat ini. Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ماتركت بعدى فتنة أضرّ على الرجال من النساء (مسلم عن أسامة بن زيد)

“Tidaklah aku tinggalkan setelahku suatu fitnah (cobaan) yang paling berbahaya bagi para lelaki dari fitnahnya para wanita.”
Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

فاتقوا الدنيا واتقوا النساء فإنما كانت فتنة بنى إسرائيل في النساء

“Hati-hatilah kalian dari godaan dunia dan hati-hatilah kalian dari godaan wanita, karena sesungguhnya fitnah (godaan) yang menimpa bani Israil adalah karena wanita.” [Muslim dari Abu Sa’id Al Khidri].
Dan dizaman kita sekarang ini – dan di masyarakat kita – ada disana orang-orang yang mengajak kepada kehinaan ini – kita berlindung kepada Allah dari hal ini – dengan cara yang beraneka ragam. Mereka juga menghiasinya dengan nama-nama yang bagus, padahal itu adalah sarana yang akan mengantarkan kepada keinginan mereka (yang busuk), berupa di singkapnya hijab (jilbab) wanita, keluarnya wanita dari rumahnya untuk ikut serta (berbaur) berkerja bersama lelaki, dan akan terhasilkan dari hal tersebut kejelekan dan bencana (berupa perzinahan dan sebagainya).
Kita memohon kepada Allah agar menjadikan makar-makar penyeru kejahatan diletakkan pada leher-leher mereka dan semoga penguasa kita mampu menguasai mereka, dengan menjauhkan umat dari segala sesuatu yang menjadi sebab terjadinya kejelekan dan kerusakan. Dan kita memohon kepada Allah agar memberikan taufik kepada penguasa kita berupa teman dekat yang sholih yang akan menunjukkan mereka (para penguasa) kepada kebaikan dan menganjurkan mereka untuk melakukannya.
Inilah diantara bentuk fitnah (cobaan) dunia yang menimpa umat manusia. Fitnah dunia akan datang silih berganti bagaikan ombak yang ada dilautan. Terkadang muncul suatu fitnah kemudian hilang, tapi setelah itu muncul fitnah yang lain yang jauh lebih besar.
Oleh karena itu, Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam menasehatkan kepada umatnya untuk tidak larut dalam dunia, sebagaimana apa yang diriwayatkan oleh Al Imam Al Bukhori dari Ibnu Umar, Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam memegang pundak beliau (Ibnu Umar) lalu beliau Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

كن في الدنيا كأنك غريب أو عابر سبيل

“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau orang yang sedang melalui suatu jalan.”
Setelah mendengar sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam Ibnu Umar pun mengatakan: Jika engkau berada di waktu sore maka jangan engkau menunggu waktu pagi (untuk beramal), dan jika engkau berada di waktu pagi jangan engkau menunggu waktu sore (untuk beramal) gunakanlah waktu sehatmu (untuk beramal) sebelum datang waktu sakitmu, gunakanlah waktu hidupmu (didunia) sebelum datang kematianmu. Berkata Ibnu Rojab Al Hambali: Didalam hadits ini terkandung inti dari (keharusan) pendeknya angan-angan di dunia, karena seorang mukmin tidak sepantasnya baginya untuk menjadikan dunia ini sebagai tahan air dan tempat tinggal yang dia merasa tenang didalamnya. Akan tetapi sepantasnya dia menjadi seperti orang yang sedang safar, yakni dia (menjadikan dunia itu) sebagai perbekalan untuk menempuh perjalanan. Dan sungguh telah sepakat wasiat-wasiat para Nabi dan para pengikutnya atas hal itu.
Allah Ta’ala berfirman, menghikayatkan ucapan seorang yang beriman (kepada Allah) dari keluarga Firaun.

إِنَّمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الْآخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ

“Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.”(QS. Mu’min: 39)
Dan Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مالى وللدنيا إنما مثلى ومثل الدنيا كمثل راكب قال فى ظل شجرة ثم راح وتركها

“Ada apa aku dengan dunia, sesungguhnya, permisalan antara aku dengan dunia seperti seseorang yang sedang berkendaraan kemudian tidur sebentar di bawah naungan dibawah pohon, kemudian dia pun pergi meninggalkannya.” [HR. riwayat Ahmad dan Tirmidzi]
Perhatikanlah permisalan yang disebutkan oleh Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam, beliau mempermisalkan dirinya dengan seorang yang sedang menempuh perjalanan dan mempermisalkan dunia itu dengan sebuah pohon yang memiliki naungan. Maka, tidaklah pantas bagi seorang yang sedang menempuh perjalanan untuk menjadikan pohon tersebut sebagai tujuan akhirnya. Namun hendaknya dia hanya menjadikan pohon itu sebagai tempat istirahatnya sementara, untuk kemudian dia melanjutkan perjalanannya menuju tempat tujuan akhir. Begitu pula dengan kita, sepantasnya bagi kita untuk menjadikan dunia ini sebagai tempat tinggal sementara dan mempersiapkan bekal untuk menuju kehidupan kita yang sebenarnya di akhirat nanti.
Berkata Al Fudzail bin Iyadh kepada seorang lelaki: Sudah berapa tahun berlalu atasmu? Dia menjawab: 60 tahun, berkata Fudzail: berarti semenjak 60 tahun engkau berjalan menuju Robbmu, dan engkau hampir sampai. Lelaki itu berkata: Sesungguhnya kita milik Allah dan sesungguhnya kepadaNyalah kita kembali. Lalu berkatalah Fudzail: Apakah engkau mengetahui tafsir (penjelasan) dari ucapanmu itu? Engkau mengatakan bahwa sesungguhnya kita milik Allah dan sesungguhnya kepadaNyalah kita kembali, maka barangsiapa yang mengetahui bahwa dia adalah milik Allah sebagai hamba, dan bahwasannya kepadaNyalah dia kembali, mereka mengetahui bahwa dia akan menghadap Allah, dan barangsiapa yang mengetahui bahwa dia akan menghadap maka hendaklah dia tahu bahwa dia akan ditanya, dan barangsiapa yang mengetahui bahwa dia akan ditanya, maka hendaklah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan nanti. Maka lelaki itu berkata: lalu apa usaha kita? Fudzail menjawab: Mudah. Dia berkata lagi: Apa itu? Fudzail menjawab: engkau berbuat kebaikan pada yang tersisa (dari umurmu) maka akan diampuni bagimu apa yang telah lewat, dan jika engkau berbuat kejelekan pada apa yang tersisa (dari umurmu) maka engkau akan disiksa dengan apa yang telah lewat dan apa yang tersisa (dari umurmu). Wallahu a’lam.

Maroji’: Sarah Riyadussolihin – Ibnu ‘Utsaimin 1/362-363.
Jamiul Ulum wal khikam – Ibnu Rojab hal 486 dan 489.

Penulis: Abdussobur


KEJUJURAN

April 6, 2011

Agama Islam adalah agama yang sempurna dari seluruh sisinya, tidak membutuhkan lagi adanya penambahan dan pengurangan padanya. Seluruh norma-norma kebaikan telah diajarkan, dan begitu pula sebaliknya, seluruh jalan-jalan keburukan telah diperingatkan untuk ditinggalkan. Tak ada satu kebaikan sekecil apapun melainkan telah di kabarkan oleh Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam dan tak ada kejelekan sekecil apapun melainkan telah diperingatkan pula oleh Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam.

Diantara norma kebaikan yang diajarkan oleh Islam adalah kejujuran. Kejujuran merupakan dasar bagi seseorang untuk dibangun diatasnya perkataannya dan perbuatannya. Asy Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin berkata: Jujur maknanya adalah kesesuaian antara apa yang dikabarkan dengan apa yang terjadi dan ini adalah makna asalnya.

Maka, jika engkau mengkhabarkan tentang sesuatu dan kabar yang kamu sampaikan sesuai dengan kenyataan yang terjadi, maka dikatakan bahwa kamu telah jujur, sebagaimana contoh: jika hari ini hari ahad, apabila kamu mengatakan bahwa hari ini hari ahad, maka kamu telah jujur, namun jika kamu mengatakan bahwa hari ini hari senin, maka kamu telah dusta.

Dan sebagaimana kejujuran itu terdapat di dalam perkataan, maka kejujuran juga terdapat didalam perbuatan, yaitu ketika batin seseorang itu sesuai dengan dhohirnya yang mana apabila dia melakukan suatu amalan, maka amalan tersebut sesuai dengan apa yang ada di hatinya.

Oleh karena itu orang yang riya’ (orang yang ingin memamerkan amalannya) bukanlah orang yang jujur karena dia menampakkan kepada manusia seolah dia itu termasuk dari ahli ibadah padahal tidak semacam itu.

Dan orang yang musyrik (orang yang mempersekutukan) bersama Allah (sesuatu yang lain dalam hal ibadah) bukanlah orang yang jujur karena dia menampakkan seolah dia termasuk orang yang bertauhid (tidak mempersekutukan Allah). Dan juga orang munafiq, bukanlah orang yang jujur karena dia menampakkan seolah mengikuti Rasul Shollallahu ‘alaihi wasallam padahal dia bukanlah orang yang mengikuti beliau Shollallahu ‘alaihi wasallam.

Kesimpulannya, bahwa kejujuran adalah kesesuaian antara kabar dengan kenyataan yang terjadi, dan kejujuran merupakan perangai kaum mukminin. Dan sebaliknya, kedustaan merupakan diantara perangai orang-orang munafiq.

Allah Ta’ala memerintahkan pula dalam Al Qur’an agar kaum mukminin mereka menjadi orang-orang yang jujur. Sebagaimana dalam firmanNya:

 

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

 

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.”(QS. At Taubah: 119)

Berkata Asy Syaikh As Sa’di dalam tafsirnya: “Dan jadilah kalian bersama orang-orang yang jujur” yakni di dalam segala perkataan, perbuatan, dan keadaan mereka yang mana perkataan-perkataan mereka itu jujur, dan juga perbuatan-perbuatan mereka, serta keadaan-keadaan mereka. Dan hal itu tidak akan terwujud kecuali apabila kejujurannya itu kosong dari sifat kemalasan dan kefuturan, selamat dari maksud-maksud yang jelek, dan mengandung keikhlasan dan niat yang baik, karena kejujuran itu akan mengantarkan kepada kebaikan dan kebaikan akan mengantarkan kepada surga.

Oleh karena itu, kejujuran harus ditanamkan sedini mungkin pada anak-anak, dan peran orang tua sangat besar dalam hal ini. Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al Imam Ahmad dari Abu Hurairah. Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya):”Barangsiapa yang mengatakan kepada seorang anak “kemari nanti aku beri” kemudian (setelah anak itu datang) dia tidak memberinya sesuatu maka sungguh ia adalah kedustaan.”

Perhatikanlah, didalam hadits ini Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam melarang dari mendustai seorang anak, hal ini di karenakan nantinya anak itu akan mencontoh kedustaannya. Namun apabila seorang itu jujur terhadap anak, maka anak itupun nantinya akan mencontoh kejujurannya.

Kemudian, kejujuran juga merupakan salah satu jalan yang akan mengantarkan seorang kesurga. Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al Imam Al Bukhori dan Muslim dari Ibnu Mas’ud:

 

إن الصديق يهدى الى البر وإن البر يهدى الى الجنة وإن الرجل ليصدق حتى يكتب عند الله صديقا وإن الكذب يهدى الى الفجور وإن الفجور يهدى الى النار وإن الرجل ليكذب حتى يكتب عند الله كذابا. متفق عليه

 

“Sesungguhnya kejujuran itu akan mengantarkan kepada kebaikan, dan kebaikan itu akan mengantarkan kepada surga, sesungguhnya senantiasa seorang itu jujur sehingga ditulis disisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya kedustaan itu akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan itu akan mengantarkan kepada neraka, dan senantiasa seorang itu berdusta sehingga ia ditulis disisi Allah sebagai pendusta.”

Perhatikanlah, di dalam hadits ini terkadung anjuran dari Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam untuk senantiasa jujur, karena kejujuran akan mengantarkan kepada kebaikan, dan kebaikan akan mengantarkan kepada surga, dan apabila seorang itu senantiasa jujur baik dalam perkataanya ataupun perbuatannya, maka dia akan ditulis disisi Allah sebagai orang yang jujur.

Dan juga di dalam hadits ini terkandung larangan dari berbuat dusta, karena kedustaan akan mengantarkan kepada kefajiran (kejahatan) dan kefajiran akan mengantarkan kepada neraka. Dan apabila seorang itu senantiasa berbuat dusta, maka dia akan ditulis disisi Allah sebagai pendusta. Wal ‘iyadubillah.

Berkata Asy Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin: Al birr (kebaikan) maknanya adalah banyaknya kebaikan, dan diambil dari kata itu pula nama Allah Al Barr, yang bermakna Yang Maha banyak Kebaikannya, dan kebaikan itu merupakan hasil dari kejujuran, dan sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam (yang artinya): “Sesungguhnya kebaikan itu akan mengantarkan kesurga.” (Maksudnya) pemilik kebaikan – kita meminta kepada Allah agar menjadikan kita termasuk darinya – akan diantarkan oleh kebaikannya kesurga, dan surga adalah puncak dari seluruh permintaan.

Oleh karena itu seorang diperintahkan untuk meminta kepada Allah surga dan berlindung dari neraka.

 

فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

 

“Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”(QS. Ali Imran: 185)

Ash shiddiq (orang yang jujur) berada di tingkatan yang kedua dari orang-orang yang Allah beri kenikmatan atas mereka, sebagaimana Allah berfirman:

 

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

 

“Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”(QS. An Nisa: 69)

Maka orang yang senantiasa berusaha untuk jujur, akan ditulis disisi Allah sebagai shiddiq dan sudah diketahui bahwa kejujuran adalah derajat yang agung, tidak di dapat kecuali oleh sedikit dari manusia.

Dan (derajat shiddiq) ada dikalangan laki-laki dan juga ada dikalangan perempuan, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

 

مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ

 

“Al Masih putera Maryam hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar.”(QS. Al Maidah: 75)

Dan yang paling mulia dikalangan shiddiq (orang-orang yang jujur) secara mutlak adalah Abu Bakr Ash Shiddiq (nama beliau adalah) Abdullah bin ‘Utsman, yang mana beliau adalah orang yang menjawab seruan Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam ketika menyerunya kepada Islam, dan tidak di dapati pada dirinya sedikitpun dari keraguan dan kebimbangan, dengan sekedar apa yang diserukan oleh Rasul Shollallahu ‘alaihi wasallam kepada Islam, beliau pun masuk Islam.

Beliau membenarkan Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam disaat kaumnya mendustakannya, dan membenarkannya pula tatkala Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam bercerita tentang isra dan mi’roj, padahal manusia saat itu mendustakannya, dan mereka mengatakan: bagaimana engkau wahai Muhammad pergi dari Makkah ke baitul Maqdis dan engkau kembali dalam waktu satu malam, kemudian engkau mengatakan bahwa engkau naik kelangit, ini tak mungkin. Lalu mereka pergi  ke Abu Bakr Ash Shiddiq dan mengatakan padanya: tidakkah kamu mendengar  apa yang dikatakan temanmu? Mereka berkata: Sesungguhnya dia berkata begini dan begitu, Abu Bakr berkata: Jika memang dia telah berkata demikian, maka sungguh dia telah berkata jujur. Maka sejak saat itu, beliau digelari Ash Shiddiq.

Adapun dusta, maka sungguh Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: Hati-hatilah kalian dari dusta.

Dusta adalah pengkhabaran (pemberitaan) dengan apa yang menyelisihi kenyataan, sama saja apakah dengan perkataan atau dengan perbuatan. Maka apabila ada yang berkata: hari apa ini? Lalu dijawab: hari ini hari Kamis padahal hari Rabu, maka sungguh dia telah dusta, karena hari ini adalah hari Rabu .

Dan orang munafiq adalah orang yang dusta, karena lahiriahnya menunjukkan bahwa dia seorang muslim, padahal dia kafir, maka dia telah berdusta dengan perbuatannya.

Dan sabda Nabi Shollallah ‘alaihi wasallam: “Sesungguhnya dusta itu akan mengantarkan kepada kefajiran.” Yang di maksud dengan kefajiran adalah keluar dari ketaatan kepada Allah, karena manusia itu terkadang berbuat fasik dan melampaui batas, dan keluar dari ketaatan kepada Allah menuju kemaksiatan, dan kefajiran yang paling besar adalah kekafiran.

Maka, sesungguhnya kekafiran itu adalah kefajiran, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

 

أُولَئِكَ هُمُ الْكَفَرَةُ الْفَجَرَةُ

 

“Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka.”(QS. ‘Abasa: 42)

Dan juga firman Allah Ta’ala:

 

كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْفُجَّارِ لَفِي سِجِّينٍ وَمَا أَدْرَاكَ مَا سِجِّينٌ كِتَابٌ مَرْقُومٌ وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّبِينَ الَّذِينَ يُكَذِّبُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ

 

 

“Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin. Tahukah, kamu apakah sijjin itu? (Ialah) kitab yang bertulis. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan.”(QS. Al Muthoffifin: 7-11)

Dan firman Allah Ta’ala:

 

وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ

 

“dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.” (QS. Al Infithor: 14)

Maka kedustaan itu akan mengantarkan kepada kefajiran, dan kefajiran akan mengantarkan kepada neraka.

Oleh karena itu, kedustaan termasuk dari perkara-perkara yang di haramkan, bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa kedustaan termasuk dari dosa-dosa besar, karena Rasul Shollallahu ‘alaihi wasallam mengancam (orang yang berdusta) dengan tulisan disisi Allah sebagai pendusta.

Dan termasuk kedustaan yang paling besar adalah apa yang dilakukan oleh sebagian manusia pada masa sekarang ini, yaitu dengan mendatangkan cerita-cerita dusta, namun dengan tujuan membuat manusia tertawa.

Dan sungguh telah datang hadits yang mengancam dari perbuatan ini, Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 

ويل لمن حدث فكذب ليضحك به القوم ويل له ثم ويل له

 

“Kecelakaan bagi orang yang berbicara kemudian dia dusta dengan tujuan untuk membuat orang tertawa, kecelakaan baginya, kemudian kecelakaan baginya.”

Mudah-mudahan kita termasuk dari orang-orang yang jujur dan kita berlindung diri dari termasuk orang-orang yang dusta. Wallahu a’lam bishowab.

Maroji’: Syarah Riadushsholihin – Ibnu ‘Utsaimin hal 149, 175, 176.

Tafsir As Sa’di.

Penulis: Abdush Shobur

 


Tiga Perkara Yang Tidak Dicatat Sebagai Dosa

Januari 24, 2011

Sahabat Ibnu ‘Abbas Radliyallahu ‘anhuma meriwayatkan dari Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:

 

إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَ لِي عَنْ أُمَّتِى الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوْا عَلَيْهِ

 

“Sesungguhnya Allah memaafkan umatku karena aku (apa yang mereka lakukan) tanpa ada kesengajaan, lupa dan apa yang mereka dipaksa untuk melakukannya.” [Hadits Hasan riwayat Ibnu Majah dan Al Baihaqi]

Hadits diatas menunjukkan bahwa orang yang melakukan suatu larangan Allah atau meninggalkan sesuatu dari perintah Allah tanpa ada kesengajaan untuk melakukan larangan Allah atau meninggalkan perintahNya maka orang yang seperti ini tidak dicela di dunia dan tidak diadzab di akherat.

Demikan pula orang yang melakukan hal-hal tadi karena lupa atau karena dipaksa. Ini dimaafkan oleh Allah sebagai nikmat dan karunia dariNya.

 

Keutamaan Allah atas umat ini.

Seperti inilah agungnya karunia Allah atas umat ini, dimana Allah meringankan beban atas umat ini yang pada umat sebelum kita tidak mendapatkan keringanan seperti itu. Dahulu Bani Israil jika di perintah dengan sesuatu lalu mereka lupa untuk mengerjakannya atau di larang dari sesuatu lalu mereka tidak sengaja melakukannya maka Allah menghukum mereka karenanya, sementara umat ini Allah maafkan apa yang dilakukan karena lupa atau tidak sengaja. Allah kabulkan permohonan do’a umat ini.

 

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ

 

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya.”(QS. Al Baqaroh: 286)

Allah Ta’ala berfirman:

 

ولَيْس عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ

 

“Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu.”(QS. Al Ahzab: 5)

Demikian pula, Allah tidak membebani hambaNya sesuatu yang mereka tidak mampu untuk melakukannya. Allah berfirman:

 

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” (QS. Al Baqarah: 286)

Dan merupakan hikmah atau kebijaksanaan Allah bahwa Ia tidak menghukum seorang dari umat ini kecuali bila ada unsur kesengajaan untuk bermaksiat dan menyelisihi perintah. Karena suatu siksaan atas amal atau pahala dikaitkan dengan adanya niatan. Namun hal ini bukan berarti dia lepas dari hukum yang berkaitan dengan perbuatannya. Terutama yang berkaitan dengan hal-hal manusia. Sebagai contoh: Orang yang memecahkan piring orang lain tanpa ada kesengajaan maka dia tidak berdosa namun dia dituntut untuk menggantinya atau memberikan senilai piring yang ia pecahkan. Contoh lain: orang yang lupa suatu sholat wajib hingga habis waktunya maka dia tidak berdosa, namun dia dituntut untuk mengerjakan sholat yang ia tinggalkan karena lupa.

 

Beberapa contoh dari Al Qur’an dan hadits

Disana ada sekian contoh dari Al Qur’an dan sunnah Rasulullah yang menunjukkan tentang tidak dicatatnya sebagai dosa dari orang yang melakukan pelanggaran karena tidak sengaja atau lupa meskipun dia tetap dibebani dengan hukum yang lain, diantara contohnya:

1.Pembunuhan tanpa ada kesengajaan.

Orang yang menyengaja memanah binatang buruan atau memanah musuh (yang kafir) lalu panah tadi mengenai seorang muslim (hingga mati) atau seorang yang darahnya terjaga menurut agama, maka orang yang memanah tersebut tidak berdosa meskipun tidak berarti bebas dari tuntutan untuk membayar tebusan dan kaffarot.

Allah Ta’ala berfirman:

 

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ أَنْ يَقْتُلَ مُؤْمِنًا إِلَّا خَطَأً وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ إِلَّا أَنْ يَصَّدَّقُوا فَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ عَدُوٍّ لَكُمْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ فَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ وَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ

 

“Dan tidak layak bagi seorang mu’min membunuh seorang mu’min (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja), dan barangsiapa membunuh seorang mu’min karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum yang memusuhimu, padahal ia mu’min, maka (hendaklah si pembunuh) memerdekakan hamba-sahaya yang mukmin. Dan jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai cara taubat kepada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”(QS. An Nisa: 92)

2.Mengakhirkan sholat dari waktu yang telah ditentukan.

Barangsiapa mengakhirkan sholat dari waktunya karena ada udzur (halangan bukan atas kesengajaan) seperti karena tertidur atau lupa maka dia tidak berdosa. Namun dia dituntut untuk mengkodlo (membayar dengan mengerjakannya) seketika ia terbangun dari tidurnya atau ketika ia ingat.

Al Imam Al Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari hadits Anas bin Malik Radliyallah ‘anhu dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 

مَنْ نَسِيَ صَلَاةً فَلْيُصَلِّ إِذَا ذَكَرَهَا لَا كَفَّارَةَ لَهَا إِلَّا ذَلِكَ

 

“Barangsiapa yang lupa suatu sholat hendaknya dia melakukannya ketika mengingatnya, tidak ada kaffarot (tebusan) kecuali hanya itu.”

Dan disebutkan dalam riwayat Imam Muslim: “Barangsiapa lupa suatu sholat atau tertidur dari sholat hendaknya ia melakukan sholat bila mengingatnya…..”

3.Mengucapkan Kekufuran.

Orang yang dipaksa untuk mengucapkan ucapan kekafiran (jika tidak mau akan dibunuh atau dipotong anggota tubuhnya atau yang semisalnya) maka kalau dia mampu untuk mengatakan sesuatu yang mengesankan dihadapan orang yang memaksanya bahwa dia telah mengucapkan apa yang diinginkan, hendaknya ini yang dilakukan yaitu tidak berterus terang. Namun jika tidak memungkinkan kecuali harus berterus terang maka dalam kondisi seperti ini boleh mengucapkannya tanpa diyakini dalam hatinya. Allah Ta’ala berfirman:

 

مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

 

“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.”(QS. An Nahl: 106)

Tetapi bila orang yang dipaksa ini tetap bersabar dengan tidak mau mengucapkan ucapan kekafiran, bersabar atas gangguan dan hal yang menyakitkan dan mengharap pahala dari Allah tentunya hal ini lebih mulia. Seandainya dia terbunuh karena memegang perinsip akidahnya yang benar dan tidak mau mengucapkan ucapan kekafiran maka dia termasuk orang yang mati syahid. Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 

لَاتُشْرِكْ بِاللِه شَيْئًا وَإِنْ قُطِعْتَ أَوْحُرِّقْتَ

 

“Janganlah kamu menyekutukan Allah sedikitpun meski kamu di potong atau di bakar.” [HR. Ibnu Majah]

Maksudnya: janganlah kamu mengucapkan ucapan kesyirikan dan semisalnya bila kamu dipaksa untuk melakukan demikian meskipun berakibat seperti yang disebutkan dalam hadits.

Perincian penjelasan tentang perbuatan yang dilakukan tanpa ada kesengajaan karena lupa.

Sesungguhnya konsekuensi atas perbuatan yang di kerjakan karena tidak sengaja atau lupa itu berbeda-beda dengan perbedaan perbuatan atau ucapan yang dilakukan. Hal ini bisa dilihat pada empat macam berikut.

Pertama: Jika ketidaksengajaan atau lupa terjadi pada meninggalkan apa yang di perintahkan maka tidak gugur kewajiban itu, bahkan harus disusul dengan dilakukan. Misalnya seandainya seorang memberikan zakat hartanya kepada orang yang ia sangka fakir namun ternyata ia kaya maka tidak sah dan harus ia berikan kepada orang fakir. Orang yang memberi zakat tersebut boleh menarik zakatnya yang keliru itu. Misal karena lupa: seandainya seorang bertayamum karena lupa padahal dia punya air, maka wajib atasnya untuk berwudhu dan seandainya dia sudah sholat dengan tayamum tersebut maka dia harus mengulang sholatnya.

Kedua: Jika ketidaksengajaan dan lupa terjadi pada perkara yang dilarang dan bukan termasuk merusak maka tidak ada tuntutan atasnya, contohnya: seorang minum suatu minuman dia tidak tahu kalau itu adalah khomer atau arak, dia tidak berdosa dan tidak dihukum. Dan demikian pula orang yang sedang ihrom (ketika haji atau umroh) bila lupa memakai minyak wangi, ia tidak dikenai hukuman apa-apa.

Ketiga: Bila ketidaksengajaan atau lupa terjadi pada bentuk melakukan sesuatu yang dilarang dan larangan itu termasuk dari bentuk merusak maka tidak gugur dari tuntutan. Contohnya: Seorang yang disuguhi makanan dari merampas miliknya orang, dan orang yang disuguhi itu tahu namun ketika makan ia lupa bahwa makanan tersebut dari merampas maka ia menanggung.

Demikan pula orang yang membunuh binatang buruan disaat ihrom dalam kondisi ia lupa atau tidak tahu hukumnya maka dia dituntut membayar fidyah sebagai kaffarat atas perbuatannya.

Keempat: Jika ketidaksengajaan atau lupa terjadi pada bentuk melakukan sesuatu yang dilarang dan perbuatan tersebut sesuatu yang bisa menyebabkan seorang dikenai hukuman maka ketidak sengajaan atau lupa adalah bentuk kesamaran yang hukuman itu gugur dari pelaku.

Misalnya, bila ada seorang membunuh orang muslim dinegeri kafir yang dinyatakan statusnya sebagai negeri perang maka si pembunuh tadi tidak dikenai hukuman kishosh dan tebusan.

 

Yang tidak dimaafkan dari orang yang lupa

Apa yang telah lalu dari penjelasan seputar tidak adanya tuntutan atas suatu perbuatan karena lupa itu bagi orang yang lupa yang tidak ada upaya untuk terjadinya kelupaan. Adapun orang menyebabkan dirinya terjatuh kedalam kelupaan maka lupa yang seperti ini terkadang tidak menjadikannya lepas dari tuntutan. Misalnya ada seorang yang mengetahui pakaiannya ada najis lalu dia menunda-nunda untuk menghilangkan najis tadi sampai dia lupa dan sholat dengan pakaian najis tadi maka orang seperti ini dianggap orang yang meremehkan disamping dia mengkodlo sholatnya.

 

Tentang lupa membaca basmalah ketika menyembelih

Orang yang menyengaja tidak membaca basmalah ketika menyembelih maka sembelihannya tidak halal. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

 

وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ

 

“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan.”(QS. Al An’am: 121)

 

Adapun apabila karena lupa maka boleh dimakan sebelihannya.

Bercakap-cakap dalam sholat karena lupa

Orang yang seperti ini tidak batal sholatnya menurut madzhab Imam Syafii.

 

Lupa makan, minum dan bersetubuh saat puasa

Tidak batal puasa orang yang makan atau minum karena lupa ini berdasarkan hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam:

 

مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَكَلَ أَوْشَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقَاهُ

 

“Barangsiapa lupa, lalu dia makan atau minum dalam keadaan puasa, hendaknya ia menyempurnakan puasanya, karena Allahlah yang memberi makan dan minum kepadanya.” [HR. Al Bukhari dan Muslim]

Yang berkaitan dengan perbuatan orang yang dipaksa

Komsekuensi hukum yang berkaitan dengan perbuatan orang yang dipaksa berbeda-beda sesuai dengan tingkat pemaksaan dan tabiat dari perbuatan yang orang dipaksa untuk melakukannya.

Orang yang dipaksa adakalanya ada pada kondisi yang dia tidak ada pilihan dan tidak ada kemampuan untuk mengelak, ini seperti orang yang diikat lalu dibawa paksa memasuki tempat yang ia telah bersumpah untuk tidak memasukinya. Orang yang seperti ini tidak dikatakan melanggar sumpah dan tidak berdosa.

Terkadang ada bentuk paksaan yang seorang bisa mengelak, jika dia melakukannya maka perbuatannya ada konsekuensi. Misalnya orang yang dipaksa untuk membunuh orang lain, jika tidak mau membunuh maka dia yang akan dibunuh. Dalam kondisi ini maka tidak boleh seorang membunuh hanya karena ingin menyelamatkan nyawanya.

Dipaksa untuk melakukan zina dan perkara yang diharamkan selain membunuh

Mayoritas ulama berpendapat bahwa orang yang dipaksa untuk melakukan yang diharamkan seperti mencuri, minum khomer dan semisalnya maka boleh baginya melakukannya dengan menanggung apa yang ia rusak dari hak manusia.

Catatan: Pemaksaan yang seorang tidak dicatat sebagai dosa bila melakukan pelanggaran adalah jika sampai pada tingkatan terancam nyawanya, anggota tubuhnya, hartanya dan yang semisalnya dimana dia tidak bisa mengelaknya.

 

Pemaksaan atas perkataan

Mayoritas ulama menyatakan bahwa pemaksaan bisa terjadi pada segala ucapan. Maka, siapa dipaksa atas suatu ucapan yang di haramkan, tidak ada dosa atasnya dan ucapannya tidak berkonsekuensi apapun. Contoh dari ini adalah orang yang dipaksa mengucapkan kata-kata kekufuran. Allah tidak mencatatnya sebagai dosa sebagaimana firmanNya:

 

إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ

 

“Kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa)”(QS. An Nahl: 106)

Pemaksaan atas ucapan juga berlaku pada akad nikah, jual beli, dan pembatalan seperti pemaksaan atas cerai, rujuk, sumpah dan nadzar. Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 

لَاطَلَاقَ وَلَاعِتَاقَ فِى إِغْلاقٍ

 

“Tidak ada perceraian dan pemerdekaan budak dalam keadaan dipaksa.” [Hadits hasan riwayat Abu Daud]

Keridloan orang yang dipaksa

Bila nampak pada orang yang dipaksa keridloan terhadap apa yang ia dipaksa dengannya dan adanya keinginan dari dirinya untuk melakukannya maka dianggap sah apa yang dia jalani dari akad dan semisalnya.

 

Pemaksaan yang dianggap sah

Bila seorang dipaksa untuk mengucapkan atau melakukan sesuatu yang ia diwajibkan atasnya maka pemaksaannya tidak menghalangi dari ditetapkannya hukum atasnya. Sebagai contoh.

1.Orang kafir yang berada dinegeri yang dihukumi negeri perang bila dipaksa masuk islam lalu dia mengucapkan syahadat maka sah islamnya.

2.Bila penguasa memaksa seseorang yang punya hutang untuk menjual hartanya guna membayar hutang-hutangnya maka dianggap sah penjualannya.

 

[Dinukil dengan ringkas dan sedikit tambahan dari kitab Al Wafi fi syarhil arbain hal 328-341]


Tanda-tanda Kematian Yang Baik

Januari 24, 2011

Kematian yang baik (husnul khotimah) adalah harapan setiap mukmin yang menghendaki kebahagiaan akherat. Yang demikian karena orang yang akhir kehidupannya baik maka ada harapan besar mendapatkan surga Allah. Namun demikian, kita tidak boleh memastikan seorang yang lahiriahnya mati dalam kebaikan bahwa dia masuk surga, karena ini adalah perkara yang ghoib. Berikut ini adalah tanda-tanda husnul khotimah yang disebutkan oleh Asy Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu:

1.Orang yang mengucapkan syahadat ketika meninggal. Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلهَ إِلّا اللهُ دَخَلَ الجنَّة

“Barangsiapa akhir ucapannya (adalah) “Laa ilaaha illallaahu” maka dia akan masuk kedalam surga.” [HR. Al Hakim dan selainnya dengan sanad yang bagus]

2.Meninggal dengan berkeringat dahinya.

Ini berdasarkan hadits Buraidah bin Al Hushaib Radliallahu ‘anhu bahwa ia berada di Khurosan (satu wilayah) lalu dia menjenguk saudaranya yang sedang sakit. Buraidah mendapati saudaranya dalam keadaan mau meninggal dan tiba-tiba dahi saudaranya berkeringat. Maka Buraidah berkata: Allahu Akbar, aku mendengar Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 

مَوْتُ المُؤْمِنِ بِعَرَقِ الْجَبِيْن

 

“Matinya seorang mukmin dengan berkeringatnya dahi atau jidat.” [HR. An Nasai dan selainnya]

3.Meninggal pada malam jum’at atau siangnya. Ini berdasarkan hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam:

 

مَامِنْ مُسْلِمٍ يَمُوْتُ يَوْمَ الجُمُعَةِ أَوْلَيلَةَ الجُمُعَةِ إِلّا وَقَاهُ اللهُ فِتْنَة القَبْر

 

“Tiada seorang muslim yang meninggal pada hari jum’at atau malam jum’at kecuali Allah akan menjaganya dari fitnah kubur.” [HR. Ahmad dan At Tirmidzi]

4.Terbunuh dimedan perang.

Allah Ta’ala berfirman:

 

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ فَرِحِينَ بِمَا ءَاتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ يَسْتَبْشِرُونَ بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُؤْمِنِينَ

 

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan ni`mat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.”(QS. Ali Imran: 169-171)

Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Bagi orang yang mati syahid disisi Allah ada enam perkara: diampuni baginya pada awal keluarnya darah, diperlihatkan tempat tinggalnya yang ada dalam surga, dilindungi dari azab kubur, aman dari ketakutan yang paling dahsyat (pada hari kiamat), dehiasi dengan iman, dinikahkan dengan bidadari dan diberi syafa’at pada tujuh puluh orang dari karib-kerabatnya.” [HR. At Tirmidzi dan beliau menshohihkannya, dan lain-lainnya]

Disebutkan hadits dalam riwayat Imam Nasai bahwa ada seorang lelaki mengatakan: wahai Rasulullah, mengapa kaum mukminin diuji/ditanyai (oleh malaikat) dikuburannya kecuali orang yang mati syahid? Beliau menjawab: Cukuplah kilatan pedang diatas kepalanya baginya sebagai ujian.

Catatan: Orang yang meminta kepada Allah untuk mati syahid dengan setulus permintaan sangat besar harapan akan memperoleh derajat ini meskipun ia mati diatas kasurnya misalnya dan tidak mati di medan perang. Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Barangsiapa yang memohon (mati) syahid kepada Allah dengan jujur niscaya Allah akan sampaikan ia kepada derajat orang yang mati syahid, meskipun ia mati diatas kasurnya.” [HR. Muslim]

5.Mati dalam keadaan berjuang dijalan Allah. Rasulullah bersabda kepada para sahabat: Siapa yang kalian anggap mati syahid ditengah kalian? Mereka menjawab: Wahai Rasulullah, orang yang terbunuh dijalan Allah maka dia mati syahid. Nabi bersabda: Sesungguhnya, kalau begitu orang yang mati syahid dari umatku itu sedikit. Para sahabat bertanya: Siapa mereka (yang mati syahid) wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Barangsiapa terbunuh dijalan Allah maka dia syahid, barangsiapa meninggal dijalan Allah maka dia syahid, barangsiapa mati terkena tho’un (semacam wabah kolera) maka dia syahid, barangsiapa yang mati karena sakit perutnya maka dia syahid dan orang yang (mati) tenggelam ia syahid. [HR. Muslim, Ahmad dll]

6.Meninggal karena tho’un (wabah semacam kolera).

Rasulullah bersabda: Tho’un adalah (sebab) syahidnya setiap muslim. [HR. Al Bukhori]

‘Aisyah bertanya kepada Rasulullah tentang tho’un, maka Nabi menghabarkan bahwa tho’un tadinya adalah azab yang Allah timpakan kepada siapa yang Ia kehendaki, lalu Allah jadikan tho’un (ini) sebagai rahmat bagi kaum mukminin. Maka tiada seorang hamba yang terkena tho’un lalu ia tetap tinggal di negerinya dengan bersabar (karena) ia tahu bahwa tidak akan menimpanya melainkan apa yang di takdirkan Allah, kecuali ia mendapatkan pahala syahid. [HR. Al Bukhori]

7.Mati karena perutnya sakit.

Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 

وَمَنْ مَاتَ فِى الْبَطْنِ فَهُوَ شَهِيْدٌ

 

“Barangsiapa yang mati karena (sakit) perutnya maka dia syahid.” [HR. Muslim]

8. & 9. orang yang meninggal karena tenggelam dan tertimpa (semacam bangunan).

Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Orang-orang yang mati syahid lima: Orang yang terkena tho’un, terkena sakit perut, yang tenggelam, orang yang terkena reruntuhan dan syahid dijalan Allah.” [Muttafaqun ‘alaihi]

10.Wanita yang meninggal dalam nifasnya karena melahirkan anaknya.

11.dan 12: Orang yang mati karena terbakar dan terkena radang paru-paru.

Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Orang-orang yang mati syahid itu tujuh selain yang terbunuh di jalan Allah (medan jihad): Orang yang terkena tho’un ia syahid, orang yang tenggelam syahid, yang terkena radang paru-paru ia syahid, yang terkena sakit perut ia syahid, yang terbakar ia syahid, yang meninggal dibawah reruntuhan ia syahid dan wanita yang meninggal karena “juma’” ia syahid.” [HR. Ahmad dll]

Makna “juma’” adalah wanita yang meninggal yang didalam perutnya ada anak atau yang meninggal karena melahirkan.

13.Meninggal karena penyakit “assillu” yaitu suatu penyakit yang menimpa paru-paru yang menjadikan orang yang terindap dengannya kurus kering dan mematikan, seperti penyakit TBC. Hal ini seperti dalam hadits riwayat Imam Ahmad dan selainnya, Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 

السِّلُّ شَهادة

 

“Penyakit assillu (menjadi sebab) mati syahid.”

14.Orang yang terbunuh karena melindungi hartanya yang akan dirampas secara dholim oleh orang lain.

Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Barangsiapa terbunuh karena mempertahankan hartanya maka dia syahid.”

15.& 16. Mati karena membela agama dan jiwanya.

Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 

مَنْ قُتِلَ دُوْنَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ وَمَنْ قُتِلَ دُوْنَ أَهْلِه ِفَهُوَ شَهِيْد ٌوَمَنْ قُتِلَ دُوْنَ دِيْنِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ وَمَنْ قُتِلَ دُوْنَ دَمِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ

 

“Barangsiapa terbunuh karena mempertahankan hartanya maka dia syahid, barangsiapa terbunuh karena mempertahankan keluarganya maka dia syahid, barangsiapa terbunuh karena mempertahankan agamanya maka dia syahid dan barangsiapa terbunuh karena mempertahankan darah (nyawa)nya maka dia syahid.[Shohih riwayat Abu Dawud].

17.Mati dalam keadaan ribath (berjaga-jaga di garis perbatasan wilayah muslimin dengan musuh)

Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Berjaga-jaga digaris perbatasan sehari semalam lebih baik dari puasa dan sholat malam satu bulan. Jika ia mati maka akan mengalir kepadanya (pahala) amalannya yang ia amalkan dan mengalir kepadanya rejekinya serta ia aman dari pertanyaan kubur.” [HR. Muslim dll]

18.Meninggal diatas amal sholih.

Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Barangsiapa mengucapkan “Laa ilaaha illallahu” karena mencari wajah Allah yang ia ditutup (hidupnya) dengannya maka ia masuk surga, dan barangsiapa yang bersedekah dengan suatu sedekah yang ia mencari wajah Allah yang ia tutup (hidupnya) dengannya maka ia masuk surga.” [HR. Ahmad dan selainnya dengan dengan sanad yang shohih]

[Dinukil dengan sedikit ringkas dari kitab Majmu’ah rasail Attaujihat al islamiyah Karya Asy Syaikh M. Jamil Zainu 2/236-240]


Jangan Ada Dusta

Januari 24, 2011

 

Kejujuran merupakan perangai terpuji yang barangsiapa berhias diri dengannya maka ia meraih kecintaan dari Allah dan manusia. Kejujuran memiliki posisi yang sangat mulia, namun sangat disayangkan sekali sikap mulia ini jarang kita dapatkan ditengah-tengah manusia baik pada ucapan atau perbuatan mereka. Hal ini terjadi karena tidak adanya iman atau setidaknya lemahnya iman yang darinya akan muncul beragam penyelisihan, disamping ada faktor lain yang melandasinya yaitu kebodohan yang merajalela serta rakus terhadap kemewahan dunia.

Kejujuran sebagaimana pada ucapan maka ia juga pada perbuatan. Karena kejujuran adalah sesuainya dhahir dengan batin. Orang yang beramal karena riya’ misalnya, ia bukan orang yang jujur karena ia menampakkan diri seolah-olah ahli ibadah padahal bukan demikian. Demikian pula ahli bid’ah, ia bukan orang yang jujur karena ia menampakkan diri seolah-olah mengikuti Rasulullah padahal tidak demikian.

Allah telah memerintahkan hamba-hambaNya yang beriman agar mereka selalu bersama orang-orang yang jujur.

 

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur.”(QS. At Taubah: 119)

Dan Allah memuji para lelaki dan perempuan yang jujur serta menjanjikan bagi mereka pahala yang besar.

 

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta`atannya, laki-laki dan perempuan yang jujur, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu`, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”(QS.  Al Ahzab: 35)

Kejujuran adalah kebaikan yang akan membawa pemiliknya kepada segala kebaikan. Kejujuran adalah bukti bahwa seorang itu bagus reputasinya dan bersih jiwanya. Orang yang jujur akan memperoleh kepercayaan dari manusia. Bila berkata ia jujur, bila berdagang tidak menipu dan bila memutuskan akan adil. Derajat mereka adalah paling tingginya derajat yang diraih oleh manusia setelah derajat para Nabi.

 

Kedustaan dan macamnya.

Kedustaan adalah menghabarkan sesuatu dengan yang menyelisihi kenyataan baik dia sengaja atau tidak tahu kalau ia menyelisihi kenyataan. Orang yang sengaja berdusta berdosa berbeda dengan yang tidak tahu.

Kedustaan ada dua macam yaitu dusta dalam ucapan dan dusta dalam perbuatan. Contoh dari dusta dalam perbuatan adalah seperti yang disebutkan dalam hadits tentang orang yang pertama-tama dimasukkan kedalam neraka yaitu orang yang berjihad tetapi niatannya agar dikatakan pemberani, orang yang berilmu dan mengajarkannya agar dikatakan orang yang alim dan seorang yang berinfak dengan niatan agar dikatakan dermawan. Masing-masing dari tiga jenis manusia tadi dikatakan oleh Allah: Kamu telah berdusta, lalu mereka dilempar kedalam neraka.

Kemudian ketahuilah bahwa dusta merupakan sifat orang munafiq yang sangat menonjol sebagaimana Allah Ta’ala sebutkan:

 

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ

“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.”(QS. Al Munafiqun: 1)

Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 

آية المنافق ثلاث إذا حدث كذب وإذا وعد اخلف وإذا ائتمن خان

“Tanda orang munafiq ada tiga: Bila berkata ia dusta, bila berjanji menyelisihi janji dan bila di amanati berkhianat.” [Muttafaqun ‘alaihi]

Telah banyak ayat-ayat Al Qur’an dan hadits-hadits Nabi yang mengancam dari sifat tercela ini, diantaranya adalah firman Allah Ta’ala:

 

إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ

“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta.”(QS. An Nahl: 105)

Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Hati-hatilah kamu dari kedustaan karena kedustaan akan mengantarkan kepada kedurhakaan dan kedurhakaan akan mengantarkan kepada api neraka. Dan seorang senantiasa berdusta dan berusaha berdusta hingga di tulis disisi Allah sebagai pendusta.” [HR. Ahmad, Muslim dll]

Orang yang pendusta hina disisi Allah dan jatuh dimata manusia. Bila ia berbicara maka orang tak percaya dengan omongannya. Jika kedustaan sudah menjadi watak seorang maka seluruh gerak-geriknya mencerminkan ketidak jujuran. Bila ia berdagang ia menipu. Apabila berjanji ia tidak menepati dan bila menghukumi ia akan berbuat curang. Para pendusta diakherat kelak baginya adalah neraka yang menyala-nyala sebagaimana firman Allah Ta’ala tentang orang-orang munafiq:

 

وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ

“Dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.”(QS. Al Baqoroh: 10)

Tentunya, telah menetap pada jiwa kita bahwa dusta adalah perangai yang terhina yang disandang oleh seorang, akan tetapi dusta itu pun bertingkat-tingkat sisi kejahatannya, diantara yang terbesarnya:

  1. Berdusta atas nama Allah.

 

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلَالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.” (QS. An Nahl: 116)

Dan firmanNya:

 

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِآيَاتِهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ

“Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang aniaya itu tidak mendapat keberuntungan.” (QS. Al An’am: 21)

  1. Berdusta atas nama Nabi.

Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Sesungguhnya berdusta atas namaku tidak seperti berdusta atas nama orang lain, barangsiapa bedusta atas namaku maka hendaknya ia menempati tempat tinggalnya dari api neraka.” [Muttafaqun ‘alaihi]

  1. Berdusta untuk merusak hubungan. Masuk disini mengadu domba dan berdusta agar seorang isteri benci kepada suaminya.
  2. Jual beli dengan sumpah palsu.
  3. Berdusta untuk membikin ketawa orang-orang yang mendengarnya.
  4. Orang yang mengaku bermimpi melihat sesuatu padahal dia tidak melihat dalam mimpinya.
  5. Berdusta dalam peradilan untuk mengambil harta seorang muslim dengan cara yang dhalim.
  6. Penguasa yang dusta termasuk 3 golongan yang tidak diajak bicara oleh Allah, tidak di lihat pada hari kiamat dan baginya adzab yang pedih.

 

Fenomena dusta.

Disana ada bentuk kedustaan yang dianggap remeh oleh orang, diantaranya adalah berdusta dalam memindahkan berita dan menyembunyikan sebagian hakekat perkara. Oleh karena itu Allah memerintahkan untuk mengecek berita orang yang fasiq. Sebagaimana firmanNya:

 

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al Hujurot: 6)

Diantaranya juga, dusta kepada anak-anak disaat mendiamkan atau menenangkan mereka. Hal ini memiliki efek yang negative dimana seorang anak belajar dusta dari oragtuanya dan semisalnya.

 

Orang-orang yang sering berdusta.

  1. Para pedagang.

Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Sesungguhnya para pedagang adalah orang-orang yang durhaka. Beliau ditanya, wahai Rasulullah, bukanlah Allah telah menghalalkan jual beli? Beliau menjawab: Benar, akan tetapi mereka berbicara dan berdusta, mereka bersumpah maka mereka berdosa.” [HR. Ahmad dll. Lihat Ash Shohihah No: 366]

  1. Seluruh kelompok sesat, terkhusus orang-orang Yahudi dan kaum (Syiah) Rofidhoh.

Imam Malik ditanya tentang Rafidhoh? Beliau menjawab: Jangan ajak bicara mereka dan jangan meriwayatkan dari mereka karena mereka (biasa) berdusta.

Berkata Yazid bin Harun: Ditulis (hadits) dari semua ahli bid’ah – selagi tidak mengajak kepada kebid’ahannya – kecuali Rafidhah, karena mereka biasa berdusta.

 

Dusta yang dibolehkan.

Berkata Annawawi dalam kitab “Riyadhus shalihin”: “Ketahuilah bahwa dusta meskipun hukum asalnya diharamkan hanya saja pada sebagian keadaan dibolehkan dengan adanya persyaratan-persyaratan yang telah aku jelaskan pada kitab “Al Adzkar”. Inti dari itu, bahwa ucapan merupakan sarana untuk tersampaikan kepada tujuan. Maka setiap tujuan yang terpuji yang bisa dicapai tanpa berdusta maka berdusta disini diharamkan. Dan bila tidak mungkin didapat kecuali dengan dusta maka disini boleh berdusta. Kemudian jika tujuan yang dicapai itu sifatnya mubah maka dusta dalam hal ini mubah. Bila tujuan yang dicapai itu sifatnya wajib maka dusta disini wajib. Jika ada seorang muslim bersembunyi dari orang dhalim yang akan membunuhnya atau merampas hartanya, sementara dia yang menyembunyikannya (mengamankannya) dan ditanya tentangnya maka ia harus berdusta dengan menyembunyikannya. Demikian pula kalau disisinya ada titipan dari orang lalu ada orang dhalim ingin merampasnya maka dia harus menyembunyikannya dengan berdusta. Namun menggunakan “tauriyah” lebih hati-hati yaitu dia meniatkan dengan ucapannya tujuan yang benar yang baginya tidak teranggap dusta meskipun secara penampakan lafal dan apa yang dipahami oleh orang yang diajak bicara itu dusta.  Andai dalam hal tadi seorang mengucapkan dusta dan meninggalkan “tauriyah” maka itu tidak haram. Ulama mengemukakan dalil tentang bolehnya berdusta dalam hal ini dengan hadits riwayat Ummu Kultsum radliyallahu ‘anha bahwa ia mendengar Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Bukanlah pendusta orang yang mendamaikan orang, lalu dia menyampaikan sesuatu yang baik atau berkata yang baik.” [Muttafaqun ‘alaihi]

Imam Muslim menambahkan dalam riwayatnya: Berkata Ummu Kultsum: Tidaklah aku mendengar Nabi memberi keringanan pada sesuatu (yang dusta) dari yang diucapkan oleh manusia kecuali pada tiga hal, yaitu: dalam peperangan, mendamaikan diantara manusia dan ucapan seorang lelaki kepada isterinya dan ucapan isteri kepada suaminya.”

Jadi, disana ada kondisi yang seorang boleh berdusta yaitu:

  1. Untuk mendamaikan diantara manusia.
  2. Dusta dalam peperangan, karena perang adalah tipu muslihat. Hal ini seperti pernah dilakukan oleh Nu’aim bin Mas’ud pada malam ia masuk islam dimana dia memecah belah pasukan gabungan musyrikin dalam perang khandaq dengan siasatnya.
  3. Pebicaraan seorang suami kepada isterinya dan demikian pula sebaliknya, seperti seorang suami mengatakan kepada isterinya: Kamu wanita tercantik yang mata ini belum pernah melihat seperti kamu.
  4. Berdusta untuk lepas dari kejahatan orang dhalim seperti yang dilakukan Nabi Ibrohim tatkala ia diajak oleh kaumnya kepada perayaan syirik ia mengatakan: Saya sakit dan tatkala ditanya siapa yang menghancurkan berhala-berhala itu? Beliau menjawab: Yang melakukannya adalah yang paling besarnya ini” dan ketika Ibrohim dan Sarah (isterinya) lewat disuatu daerah yang rajanya dhalim maka Ibrohim mengatakan kepada isterinya: Bila kamu ditanya maka jawablah bahwa kamu saudari saya.
  5. Seorang penguasa atau hakim ketika menguak kasus dalam persengketaan agar sampai kepada hakekat. Ini seperti kisah Nabi Sulaiman ketika datang dua wanita tua dan muda mengaku bahwa anak yang ditemukan itu anaknya. Maka Nabi Sulaiman mengatakan bahwa anak itu akan dibelah menjadi dua lalu di berikan kepada masing-masingnya. Wanita yang tua membolehkan untuk dibelah sementara yang muda melarangnya dan rela memberikan kepada yang tua. Dari sini jelas bahwa anak itu bukan milik wanita yang tua itu, karena kalau itu betul-betul anaknya maka tidak mungkin dia rela untuk di belah.

 

Attauriyah dan Atta’ridh.

Yaitu kamu mengucapkan suatu lafal yang secara dhahir jelas artinya namun kamu menginginkan makna yang lain yang dicakup oleh lafal itu, hal ini bagian dari tipu muslihat yang dibolehkan bila disana ada maslahat syar’i yang lebih dominan atau tidak ada jalan kecuali dengan berdusta. Misalnya adalah peristiwa hijrohnya Nabi bersama Abu Bakr dari Makkah ke Madinah, dikala itu orang-orang musyrik mengejar-ngejar Nabi. Ditengah perjalanan ada seorang musyrik kenalannya Abu Bakr bertanya kepada Abu Bakr tentang orang yang berjalan bersamanya. Abu Bakr menjawab bahwa orang ini adalah penunjuk jalannya. Orang itu memahami bahwa yang di maksud adalah penunjuk jalan dalam perjalanan, sementara Abu Bakr memaksudkan penunjuk jalan kepada surga. Bila Abu Bakr berterus terang menyebutkan identitas Nabi maka akan dikhawatirkan timbul madlorot besar.

 

والله أعلم

 

Ditulis oleh Abu Muhammad dari berbagai sumber.